Manusia sebagai Khalifah

Manusia sebagai khalifah di bumi adalah untuk mengerjakan tugas yg sudah di tetapkan, yaitu menjalankan sunah-sunah-Nya. Manusia tidak membuat apa yg di buat Allah, manusia hanya bisa mengembangkan saja. sebagai contoh :

Seorang petani menanami lahan, tanaman tumbuh, lalu kita tanyakan kepada petani itu : “Apakah dia yg menarik tanaman itu dari akar sehingga naiak dan menjadi besar ?” tentu jawaban nya : Tidak !. petani mencangkul tanah dan meletakan bibit, kemudian menyirami dengan air. di pelihara lahan bibit tanaman saban hari, tapi dia tidak tahu apa proses yg terjadi antara bibit itu dengan lahan. Dia hanya tahu bahwa bibit nya menjadi tanaman dan berkembang subur. sang petanai menanam itu di lahan milik Allah, dengan air milik Allah dan kekuatan serta kemampuan yg Allah berikan kepada nya.

Untuk menyadarkan manusia akan status dan kebesaran-Nya, Allah berfirman :

“Maka apakah kamu memperhatikan apa yg kamu tanam ? kamukah yg menumbuhkan ataukah kami yg menumbuhkan nya ?” (Qs. Al-waqiah : 63-64)

Manusia hanya menanam dan mengolah, yg menumbuhkan Allah. Apabila manusia yakin kalau dia yg menumbuhkan, maka coba buat bibit yg bukan bibit dari Allah. kemudia tanam di tanah yg bukan milik Allah. sirang dengan air yg bukan dari Allah. jika anda bisa melakukan itu semua, berarti anda betul-betul yg menumbuhkan nya.

Di beri nya manusia pangan secara teratur, lalu jangan mengira kalau makanan yg di makan nya itu semata-mata dari tanaman usaha nya.

Firman nya :

“Kalau kami kehendaki, pastilah kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang.”

Kita kaji tentang persoalan kehidupan. Maka kita akan sepakat mengatakan bahwa tidak ada satu makhluk pun yg dapat hidup abadi.

Sudah keputusan Allah, bahwa yg nama nya makhluk akan mati.

Firman nya :

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu, dan kami sekali-kali tidak bisa di kalahkan” (Qs. Al-waqi’ah : 60)

Advertisements